Minggu, 09 September 2012




Jakarta - Cukup banyak orang yang merasa merana atau galau saat putus cinta. Saking galaunya, berbagai hal negatif bisa mereka lakukan mulai dari lupa makan hingga ingin bunuh diri. Ini pengalaman mereka yang sangat galau gara-gara patah hati.

Anita, 21 Tahun

Anita putus dari kekasihnya sebut saja Damar pada April 2010 lalu. Damar adalah seniornya di kampus yang usianya dua tahun lebih tua darinya. Hubungan mereka berakhir setelah terjalin selama dua tahun tiga bulan. Damarlah yang memutuskan cintanya dari Anita.

"Alasannya nggak jelas. Mungkin karena jenuh, tapi dia juga bilang tidak bisa menerima kekuranganku, dia bilang ada sifat-sifatku yang bikin dia nggak suka dan sempet bikin aku jadi down banget," kisah mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri itu saat berbincang dengan wolipop Rabu (13/6/2012).

Diputuskan oleh seseorang yang sangat disayanginya dulu, membuat Anita jadi tidak percaya diri dan terus menyalahkan diri sendiri. Bahkan dukungan teman-teman baiknya pun tidak cukup, dia mengaku akan kembali sedih jika tidak dikelilingi orang lain.

Puncak kegalauannya terjadi ketika Anita sempat beberapa hari tidak masuk kuliah dan hanya menyendiri di kamar kosnya. Setelah beberapa hari absen kuliah, dia tiba-tiba harus dirawat di rumah sakit karena gangguan pada lambungnya yang disebabkan kurangnya cairan dan makanan yang dikonsumsi.

Tidak sampai di situ, bahkan Anita sempat menanyakan masalah cintanya ini ke peramal tarot terkenal di daerah Kelapa gading dengan harga yang tidak murah. "Yah sampai keperamal soalnya penasaran, dan tahu kalau dia mungkin masih sayang sama kita itu bikin perasaan lebih baik gitu," jelas Anita.

Vira, 21 Tahun

Putus cinta karena terhalang restu orangtua juga dialami Vira dan mantan kekasihnya Yogi. Keduanya mengakhiri hubungan asmara mereka pada Februari 2011 lalu, setelah pacaran selama sembilan bulan. Meski belum lama pacaran, bagi Vira, hubungannya dengan Yogi sangat berarti.

Vira terpaksa putus dari Yogi karena orangtuanya tidak memberi restu. Yogi dianggap memberi pengaruh buruk padanya. Saking tidak setujunya, orangtua Vira sampai meneror Yogi untuk menyuruh mengakhiri hubungan tersebut. Tekanan orangtua Vira itulah yang membuat Yogi tertekan dan mau tidak mau harus menjauhi mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta tersebut.

Putus di saat cintanya pada Yogi masih begitu besar membuat Vira kehilangan akal. Saat merasa sangat sedih itu, dia pun melukai tangan kirinya dengan cutter, tidak lama setelah Yogi mulai menjauhinya. “Aku nyiletin tangan pakai cutter karena emosi yang terlalu meluap, kesal sama keadaan dan situasi. Nggak tahu mau nyalahin siapa selain kesal sama diri sendiri,” ungkap Vira saat berbincang dengan wolipop Rabu (13/6/2012).

Vira melakukan 'kegilaan' tersebut saat dia hanya sendirian di rumah. Untungnya, tidak lama setelah kejadian, adiknya tiba di rumah dan segera menolong Vira. Wanita kelahiran 13 Juni 1991 itu tidak sampai dibawa ke rumah sakit. Hanya saja, walau sudah diobati, luka akibat goresan cuter tersebut masih meninggalkan bekas di tangannya.

"Waktu itu rasanya kayak mau mati saja," kata Vira yang hingga kini masih belum bisa move on dari perasaan kehilangannya terhadap Yogi.

Apa yang dialami Vira & Anita di atas menurut psikolog Rosdiana Setyaningrum memang bisa saja terjadi pada siapapun yang pernah kehilangan pasangan. Kenapa ada orang yang sampai melakukan hal ekstrim hanya karena putus cinta?

"Karena kehilangan pasangan tingkat stresnya lebih tinggi daripada kehilangan pekerjaan atau yang lainnya," jelas psikolog yang akrab disapa Diana itu saat berbincang dengan wolipop melalui telepon Kamis (14/6/2012).

Namun tingkat stres orang yang kehilangan pasangan karena putus cinta ini bisanya berbeda dari mereka yang sudah menikah. Istri atau suami yang kehilangan pasangannya, memiliki tingkat stres lebih tinggi.

"Tapi bagaimanapun juga yang namanya pacar itu kan mungkin sudah dekat sekali, sudah punya harapan lebih. Pada saat itu dia masih merasa cinta sekali, jadi dia bisa melakukan hal-hal ekstrim," tutur Diana.

Hanya saja, menurut Diana, sebenarnya mereka yang putus cinta seharusnya tidak sampai melakukan hal ekstrim selama bisa mengatasi kegalauannya dengan cepat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar